Edisi 28 Oktober 2026Jalanan Indonesia, apa adanya.
← Laju OtomotifMotor

Berkendara motor saat hujan: lima menit pertama adalah yang paling berbahaya, dan ini alasannya

Kebanyakan pengendara tahu hujan membuat jalan licin. Yang lebih jarang diketahui adalah kapan tepatnya jalan paling licin, dan bagaimana menyesuaikan diri tanpa harus berhenti.

Berkendara motor saat hujan: lima menit pertama adalah yang paling berbahaya, dan ini alasannya
Foto: R / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Musim hujan mengubah jalanan Indonesia menjadi medan yang berbeda bagi pengendara motor. Bukan hanya karena air, tetapi karena apa yang dibawa air itu: minyak, debu, dan kotoran yang selama berhari-hari menumpuk di permukaan aspal. Memahami ini mengubah cara Anda berkendara di menit-menit pertama hujan turun.

Saat hujan baru mulai, air belum cukup banyak untuk membilas permukaan jalan. Yang terjadi justru sebaliknya: tetesan awal mengangkat lapisan minyak dan debu menjadi campuran licin yang mengambang di atas aspal. Inilah sebabnya banyak pengendara jatuh ketika hujan baru rintik-rintik, bukan ketika sudah deras. Setelah beberapa waktu, air mulai membilas lapisan itu dan jalan kembali relatif stabil, meski tetap lebih licin daripada saat kering.

Baca juga: Helm, jaket, sarung tangan, sepatu: urutan prioritas perlengkapan keselamatan motor bila anggarannya terbatas

Titik-titik yang paling licin

Beberapa permukaan jauh lebih berbahaya daripada aspal biasa saat basah. Marka jalan dan cat zebra cross nyaris seperti es. Tutup gorong-gorong dan pelat besi di proyek jalan sangat licin. Rel kereta harus dilintasi setegak mungkin. Area di sekitar lampu merah, tempat kendaraan sering berhenti dan menetes oli, licin tepat ketika Anda sedang mengerem. Genangan menyembunyikan lubang, dan lubang yang tersembunyi adalah penyebab jatuh yang tidak bisa diantisipasi.

Kebiasaan yang baik adalah membaca permukaan jalan jauh di depan, bukan tepat di depan roda. Pilih jalur yang paling sering dilewati ban mobil, karena bagian itu paling bersih dari minyak dan paling jarang berlubang.

Mengubah cara mengerem dan menikung

Di jalan basah, segala sesuatu harus dilakukan lebih halus dan lebih awal. Rem lebih awal dengan tekanan bertahap, bukan mendadak, dan gunakan rem depan dan belakang bersamaan dengan porsi yang lebih seimbang daripada saat kering. Hindari mengerem di tengah tikungan: kurangi kecepatan sebelum masuk, lalu lewati tikungan dengan gas yang stabil.

Jaga jarak dengan kendaraan di depan lebih panjang dari biasanya, karena bukan hanya Anda yang butuh jarak pengereman lebih jauh, tetapi juga mobil di depan yang bisa berhenti mendadak. Cipratan air dari kendaraan besar juga bisa membutakan pandangan sesaat, dan jarak adalah satu-satunya penangkalnya.

Perlengkapan yang membuat perbedaan

Jas hujan yang baik bukan sekadar menjaga tetap kering, tetapi menjaga konsentrasi. Pengendara yang kedinginan dan kebasahan membuat keputusan yang lebih buruk. Pilih model celana dan jaket terpisah yang tidak berkibar, dan pastikan ujung celana tidak bisa tersangkut di rantai atau roda. Visor helm yang bersih dan bebas goresan jauh lebih penting saat hujan daripada saat cerah, dan sarung tangan menjaga cengkeraman saat grip setang basah.

Jika hujan terlalu deras sampai jarak pandang hilang, berhenti di tempat aman bukanlah tanda lemah. Beberapa menit berteduh hampir selalu lebih murah daripada apa pun yang mungkin terjadi di jalan yang tidak terlihat.

DP
Doni PamungkasDoni Pamungkas gabung 2025 dan jadi penulis motor utama di Laju Otomotif. Tiap tulisan perawatannya dibuat sambil mencatat ongkos di tiga bengkel berbeda, biar tidak asal.