Edisi 28 Oktober 2026Jalanan Indonesia, apa adanya.
← Laju OtomotifMobil

Lajur kanan bukan lajur cepat: etika jalan tol yang paling sering disalahpahami pengemudi Indonesia

Banyak kebiasaan di tol terasa wajar karena semua orang melakukannya. Padahal sebagian justru menjadi sumber kemacetan dan kecelakaan yang sebenarnya bisa dihindari.

Lajur kanan bukan lajur cepat: etika jalan tol yang paling sering disalahpahami pengemudi Indonesia
Foto: E / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Jalan tol dirancang untuk arus yang mengalir: kendaraan bergerak dengan kecepatan relatif seragam, perpindahan lajur terjadi dengan terencana, dan setiap pengemudi bisa memperkirakan apa yang akan dilakukan pengemudi lain. Kenyataannya di Indonesia, tol sering terasa seperti jalan biasa yang kebetulan tidak punya persimpangan. Ada mobil yang bertahan di lajur paling kanan dengan kecepatan santai, ada yang menyalip dari bahu jalan, ada yang mendadak mengerem untuk membaca rambu.

Sebagian besar perilaku ini bukan karena niat buruk, melainkan karena etika tol jarang diajarkan secara eksplisit. Orang belajar dari kebiasaan di sekitarnya, dan kebiasaan yang salah pun ikut diwariskan.

Baca juga: Asuransi mobil untuk pemula: beda total loss only dan all risk, dan mengapa klaim sering ditolak

Lajur kanan adalah lajur mendahului

Kesalahpahaman paling umum adalah menganggap lajur kanan sebagai 'lajur cepat' yang boleh ditempati siapa saja yang merasa sudah cukup cepat. Prinsip yang benar lebih sederhana: lajur kanan digunakan untuk mendahului, lalu kembali ke kiri. Jika Anda tidak sedang menyalip siapa pun, tempat Anda ada di lajur kiri atau tengah, berapa pun kecepatan Anda.

Mobil yang bertahan di kanan memaksa kendaraan di belakangnya mengambil keputusan buruk: mengekor terlalu dekat, berkedip-kedip lampu jauh, atau menyalip dari kiri. Setiap pilihan itu menaikkan risiko bagi semua orang, termasuk pengemudi yang merasa tidak melakukan apa-apa selain 'jalan normal'.

Jarak, sein, dan bahu jalan

Jarak aman adalah etika kedua yang paling sering dilanggar. Pada kecepatan tol, reaksi manusia dan jarak pengereman membutuhkan ruang yang jauh lebih panjang daripada yang terasa dari balik kemudi. Cara mudah mengukurnya adalah menghitung waktu, bukan meter: pilih satu patokan di tepi jalan, dan pastikan Anda melewatinya beberapa detik setelah kendaraan di depan. Saat hujan, tambahkan lagi.

Lampu sein bukan pemberitahuan setelah berpindah, melainkan niat sebelum berpindah. Menyalakan sein lalu langsung bergeser sama saja tidak memberi sein. Dan bahu jalan, sekeras apa pun godaan ketika antrean mengular, bukan lajur tambahan. Ia adalah ruang darurat bagi kendaraan mogok dan petugas, dan menggunakannya untuk menyalip membuat ruang itu lenyap tepat saat seseorang membutuhkannya.

Saat ada truk dan bus

Kendaraan besar punya titik buta yang luas dan jarak pengereman yang panjang. Memotong di depan truk yang sedang melaju, lalu mengerem untuk masuk gerbang tol, adalah salah satu manuver paling berbahaya yang bisa dilakukan mobil kecil. Beri mereka ruang, selesaikan menyalip dengan tuntas, dan jangan berlama-lama sejajar di sisi mereka.

Etika tol pada akhirnya tentang bisa ditebak. Pengemudi yang mudah ditebak membuat semua orang di sekitarnya lebih aman, dan arus yang mengalir lebih cepat sampai tujuan daripada arus yang penuh kejutan. Tidak ada yang kalah ketika semua orang mengalah sedikit.

DP
Doni PamungkasDoni Pamungkas gabung 2025 dan jadi penulis motor utama di Laju Otomotif. Tiap tulisan perawatannya dibuat sambil mencatat ongkos di tiga bengkel berbeda, biar tidak asal.