Edisi 28 Oktober 2026Jalanan Indonesia, apa adanya.
← Laju OtomotifListrik

Jarak tempuh di brosur dan di jalan: mengapa angkanya berbeda, dan cara memperkirakan yang realistis untuk Anda

Klaim jarak tempuh kendaraan listrik bukan bohong, tetapi juga bukan janji. Memahami cara angka itu dihitung membantu Anda menilai apakah kendaraan tersebut cocok untuk rute harian Anda.

Jarak tempuh di brosur dan di jalan: mengapa angkanya berbeda, dan cara memperkirakan yang realistis untuk Anda
Foto: N / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Hampir setiap percakapan tentang kendaraan listrik sampai pada satu pertanyaan: berapa jauh bisa jalan sekali isi? Jawabannya ada di brosur, tetapi pengalaman pemilik hampir selalu menunjukkan angka yang lebih rendah. Kesenjangan ini kerap dibaca sebagai kebohongan pabrikan, padahal penjelasannya lebih sederhana dan lebih berguna: angka brosur dihasilkan dari pengujian terstandar, dan jalanan Indonesia bukan laboratorium.

Memahami apa yang memengaruhi jarak tempuh nyata jauh lebih bermanfaat daripada berdebat soal angkanya.

Baca juga: Mengisi daya mobil listrik di rumah: konsep yang perlu dipahami sebelum memanggil teknisi listrik

Dari mana angka brosur berasal

Angka jarak tempuh diperoleh dari siklus pengujian dengan pola kecepatan, suhu, dan beban yang ditetapkan agar semua kendaraan bisa dibandingkan dengan adil. Standar pengujian yang berbeda menghasilkan angka yang berbeda untuk kendaraan yang sama, dan sebagian standar dikenal lebih murah hati daripada yang lain. Angka ini berguna untuk membandingkan satu kendaraan dengan kendaraan lain, tetapi tidak dirancang untuk memprediksi pengalaman seorang pengemudi tertentu di kota tertentu.

Yang memakan jarak tempuh di jalan

Kecepatan tinggi adalah pemakan terbesar. Hambatan udara meningkat tajam seiring kecepatan, sehingga melaju kencang di tol menghabiskan energi jauh lebih banyak daripada merayap di kota. Ini kebalikan dari mobil bensin, yang justru boros di kemacetan. Kendaraan listrik di kota diuntungkan oleh pengereman regeneratif yang mengembalikan sebagian energi setiap kali melambat.

Pendingin kabin adalah pemakan kedua, dan di iklim tropis ia nyaris selalu menyala. Beban penumpang dan barang, tekanan ban yang kurang, kondisi jalan menanjak, serta cara berkendara yang agresif masing-masing mengambil bagiannya. Suhu udara yang sangat panas juga memengaruhi efisiensi baterai, meski efeknya berbeda dari suhu dingin ekstrem yang sering dibahas di negara empat musim.

Cara memperkirakan untuk diri sendiri

Langkah pertama adalah bersikap jujur tentang rute harian: berapa jarak pulang-pergi, seberapa banyak porsi jalan tol, dan apakah pendingin kabin selalu menyala. Lalu ambil angka brosur sebagai batas atas, bukan perkiraan, dan sisakan margin yang cukup besar untuk kondisi tidak ideal. Pemilik berpengalaman cenderung merencanakan berdasarkan sebagian dari kapasitas baterai, bukan seluruhnya, karena mereka tidak ingin tiba di tujuan dengan baterai nyaris kosong.

Cara terbaik untuk mengetahuinya adalah mencoba. Jika memungkinkan, uji kendaraan di rute yang benar-benar Anda tempuh setiap hari, dengan pendingin menyala dan beban seperti biasa, lalu lihat berapa persen baterai yang terpakai. Angka itulah jarak tempuh Anda, dan hanya itu yang penting.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih tepat bukan 'berapa jauh bisa jalan', melainkan 'apakah jarak tempuh nyata dalam kondisi terburuk saya masih cukup untuk sehari, ditambah cadangan'. Jika jawabannya ya, kesenjangan antara brosur dan kenyataan berhenti menjadi masalah.

DP
Doni PamungkasDoni Pamungkas gabung 2025 dan jadi penulis motor utama di Laju Otomotif. Tiap tulisan perawatannya dibuat sambil mencatat ongkos di tiga bengkel berbeda, biar tidak asal.